Tips Guru Berbagai Menulis dan
Meneliti
Belajar Menulis Gelombang 17
·
Pertemuan Ke-24 : Jum’at, 26 Februari 2021
·
Waktu : 19:00 s/d 21:00 WIB
·
Pemateri : Umi Rosidah, M.Pd.I
·
Moderator : Sucipto Ardi
·
Topik : Menjadi
Guru yang Senang Menulis dan Meneliti
· Peresume : Sri Marwaningsih (marwaningsihsri@gmail.com
Malam ini adalah pelatihan ke-24 belajar menulis kelas Omjay dan PGRI. Narasumber malam ini sosok guru pemenang INOBEL Tingkat
Nasional Tahun 2017. Juara APRESIASI Guru Inspiratif Kemdikbud Tahun 2020.
Prestasi yang melejit di sandang oleh Ibu Umi Rosidah, M.Pd.I. Ibu Umi memulai
memaparkan materi dengan tema menjadi guru yang senang menulis dan meneliti
ditemani oleh moderator bapak Sucipto Ardi.
Kata-kata yang
membuat beliau terus belajar dan berkarya adalah “GURU MULIA KARENA KARYA”
mengantarkannnya kejenjang prestasi yang menjulang tinggi bak burung yang
mengepakkan sayapnya mencapai tujuan.
Dengan berkarya, berarti kita sudah satu
langkah lebih dekat untuk menjadi juara, dan yang lebih penting lagi guru
adalah teladan, jika guru terus belajar, maka peserta didiknya juga akan terus belajar, jika gurunya berhenti belajar
maka peserta didiknya tidak akan pernah berkembang menjadi lebih baik.
Tapi
janganlah kita berkarya untuk menjadi juara, karena bisa jadi kita akan
menghalalkan segala cara dan kecewa jika kita gagal menjadi juara,tapi
berkaryalah untuk anak didik kita, meskipun kita gagal kita akan terus berkarya
karena mendidik adalah bagian dari hidup kita
Aktivitas membaca merupakan modal utama untuk
menjadi seorang penulis. dengan membaca akan memperkaya khasanah keilmuan kita,
sehingga kita dapat melakukan sintesis dan menyajikan tulisan yang berkualitas
sesuai dengan sudut pandang kita sendiri dan bukan hasil duplikasi.
Lalu kenapa Guru harus menulis?
Pertama, karena hingga hari ini profesi penulis adalah
salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial.
Kedua, kemampuan menulis dipandang sebagai indikator
intelektualitas dan kematangan berfikir.
Melalui
aktivitas menulis dan melakukan penelitian akhirnya mengantarkan Ibu Umi pada
berbagai kegiatan lomba di tingkat nasional sejak tahun 2015. Bahkan
karena keuletannya, Ibu Umi berkali-kali mendapatkan penghargaan dan
menjadi juara dari tingkat Kabupaten hingga Nasional. Terakhir di tahun 2020
beliau pernah menjadi Juara Apresiasi Guru Inspiratif Kemendikbud 2020.
Selain itu
berkat menulis juga beliau mendapat kesempatan bertemu dengan guru-guru hebat
yang penuh inspirasi dan motivasi dari berbagai penjuru tanah air, bertemu
dengan tokoh-tokoh hebat, bertemu bapak mentri dan bahkan bapak presiden serta
pengalaman-pengalaman lain yang sangat luar biasa. Salah satunya beliau
mendapat kesempatan untuk mengikuti short course di
Jepang selama 21 hari
Saran dari Ibu
Umi, jika saat ini kita sudah terbiasa membaca dan menulis, maka hal tersebut
harus terus dilatih untuk mengembangkan kemampuan. Bisa dimulai dengan menulis
berbasis pengalaman dan kegemaran. Lalu belajarlah menulis berdasarkan riset
atau penelitian.karena pada dasarnya menulis karya tulis ilmiah tidak sesulit
yang dibayangkan. Karena yang paling sulit ternyata saat pertama kali kita
menyelesaikan tulisan. Percayalah jika karya pertama sudah berhasil kita
selesaikan, maka tulisan yang ke dua dan seterusnya akan terasa lebih mudah.
Sesungguhnya
banyak diantara kita yang ingin menjadi penulis, tapi hanya sedikit yang dapat mewujudkannya.
Banyak sekali kendala yang menjadi alasan.
Pertama, karena sering merasa tidak ada bakat.
Padahal menulis bukan hanya tentang bakat, kemampuan menulis bisa
diasah dengan ketekunan, berlatih dan menjaga komitmen.
Kedua, sulit memunculkan ide. Berbicara tentang ide,
hal ini bisa didapat dengan memperbanyak diskusi, kolaborasi, dan tentu saja
memperbanyak membaca. Terkadang ide sering kali muncul sewaktu-waktu. Jika
tidak ingin kehilangan ide itu, segera catat. Saat ini kita dimudahkan dengan
memiliki smartphone, catatlah pada smartphone. Bisa juga dengan membawa buku catatan
kecil kemanapun kita pergi. Lalu kembangkan dengan berdiskusi ataupun
menambahkannya dengan buku-buku referensi
Ketiga, tidak suka menulis itu sendiri dan ini merupakan
penyakit yang paling berat dalam menulis, tapi jika kita bisa menemukan alasan
yang kuat mengapa kita harus menulis. Maka kita bisa mengalahkannya. Salah
satunya dengan memiliki motivasi, memiliki alasan-alasan kenapa kita harus
menulis.
Kalau berbicara
alasan mengapa harus menulis tentulah sangat beragam. Berikut beberapa alasan
dari yang mungkin bisa menginspirasi dari Ibu Umi,
Keempat, sulit menerima kritik. Tanpa disadari terkadang
kita memilih untuk menutup diri dari saran dan kiritk orang lain. Padahal hal
tersebut dapat membuat kita sulit untuk berkembang menjadi lebih baik. Maka
mulailah untuk berfikiran terbuka dan tidak anti dengan kritikan.
Kelima, kendala waktu. Hal ini sebenarnya bisa
disiasati dengan meluangkan waktu. 24 jam setiap hari pasti ada waktu-waktu
kita yang tidak produktif, alangkah baiknya jika menggunakan waktu tersebut
untuk menulis.
Untuk bisa
menjadi penulis yang baik, maka kita bisa memulai dengan membiasakan hal-hal
berikut dalam keseharian kita,
Saat ini dunia
digital berkembang pesat luar biasa. Informasi apapun dapat kita peroleh dengan
mudah melalui internet. Banyak sekali sumber bacaan dan referensi yang bisa
kita peroleh dari internet. Dan yang harus menjadi perhatian adalah
jangan sampai terjebak dalam plagiasi.
Selain itu kita
juga bisa menulis berdasarkan pengalaman orang lain yang menjadi sumber
inspirasi, oleh karena itu kita perlu mengembangkan sikap peduli dan empati
seingga kita bisa memberikan solusi dan inspirasi dari setiap permasalahan yang
ada di sekitar kita
Pada akhir materi ada sesi tanya jawab dari peserta. Saya
salah satu yang bertanya. Ijin bertanya pak Cipto ibu umi, saya Sri
Marwaningsih, dari Sragen
1. Bagaimana menjaga konsisten menulis
2. Bagaimana menumbuhkan kepercayaan diri agar bisa
menulis, terimakasih.
IbuUmi menjawab” Terimakasih ibu Sri Marwaningsih atas
pertanyaanya.
Untuk menumbuhkan konsistensi menulis cara yang bisa kita
lakukan hanya satu yaitu terus menulis, berusahalah untuk menulis setiap hari,
walaupun hanya satu paragraf atau 2 paragraf hingga menulis menjadi karakter
hidup kita. bisa kita contoh Omjay, Konsistensinya sungguh luar biasa, beliau
sudah membuktikan dengan menulis setiap hari maka menulis bukan suatu hal yang
sulit lagi. jika kita sudah konsisten 1 atau 2 paragaraf kita naikkan menjadi
satu lembar atau dua lembar setiap hari dan seterusnya, insyaallah kita bisa
konsisten dengan menulis
Kita tidak perlu minder dengan apa yang sudah kita tulis,
kita harus ingat tidak semua orang bisa menyelesaikan tulisannya, panjenengan
bisa menyelesaikan tulisan panjenengan itu sudah luar biasa, ada banyak orang
diluar sana yang belum pernah menyelesaikan satu tulisanpun bahkan untuk
memulainya saja tidak. tulisan yang bagus tidak hadir dengan tiba-tiba tapi
melalui proses yang panjang tidak mudah. Jadi buang jauh-jauh perasaan tidak
percaya diri, terus menulis, menulis dan menulis
Beliau
menutup materi malam ini dengan kalimat. “GURU MULIA KARNA KARYA”, jadi jangan
pernah berhenti berkarya dan menginspirasi peserta didik kita , dalam bentuk
apapun karya itu jika kita buat dengan sungguh-sungguh pasti akan menunjukkan
jalan menuju kesuksesan.

