Minggu, 28 Februari 2021

Tips Guru Berbagai Menulis dan Meneliti

Tips Guru Berbagai  Menulis dan Meneliti

Belajar Menulis Gelombang 17

·                     Pertemuan Ke-24 : Jum’at, 26 Februari 2021

·                     Waktu : 19:00 s/d 21:00 WIB

·                     Pemateri : Umi Rosidah, M.Pd.I

·                     Moderator : Sucipto Ardi

·                     Topik : Menjadi Guru yang Senang Menulis dan Meneliti

·                     Peresume : Sri Marwaningsih (marwaningsihsri@gmail.com

 


 

Malam ini adalah pelatihan ke-24 belajar menulis kelas Omjay dan PGRI. Narasumber malam ini sosok guru pemenang INOBEL Tingkat Nasional Tahun 2017. Juara APRESIASI Guru Inspiratif Kemdikbud Tahun 2020. Prestasi yang melejit di sandang oleh Ibu Umi Rosidah, M.Pd.I. Ibu Umi memulai memaparkan materi dengan tema menjadi guru yang senang menulis dan meneliti ditemani oleh moderator bapak Sucipto Ardi.

 Kata-kata yang membuat beliau terus belajar dan berkarya adalah “GURU MULIA KARENA KARYA” mengantarkannnya kejenjang prestasi yang menjulang tinggi bak burung yang mengepakkan sayapnya mencapai tujuan.


Dengan berkarya, berarti kita sudah satu langkah lebih dekat untuk menjadi juara, dan yang lebih penting lagi guru adalah teladan, jika guru terus belajar, maka peserta didiknya juga akan terus belajar, jika gurunya berhenti belajar maka peserta didiknya tidak akan pernah berkembang menjadi lebih baik.

Tapi janganlah kita berkarya untuk menjadi juara, karena bisa jadi kita akan menghalalkan segala cara dan kecewa jika kita gagal menjadi juara,tapi berkaryalah untuk anak didik kita, meskipun kita gagal kita akan terus berkarya karena mendidik adalah bagian dari hidup kita

 

 



Aktivitas membaca merupakan modal utama untuk menjadi seorang penulis. dengan membaca akan memperkaya khasanah keilmuan kita, sehingga kita dapat melakukan sintesis dan menyajikan tulisan yang berkualitas sesuai dengan sudut pandang kita sendiri dan bukan hasil duplikasi.

Lalu kenapa Guru harus menulis? 

Pertama, karena hingga hari ini profesi penulis adalah salah satu pekerjaan yang sangat dihormati dan dihargai secara sosial.

Kedua, kemampuan menulis dipandang sebagai indikator intelektualitas dan kematangan berfikir.

Melalui aktivitas menulis dan melakukan penelitian akhirnya mengantarkan Ibu Umi pada berbagai kegiatan lomba di  tingkat nasional sejak tahun 2015. Bahkan karena keuletannya,  Ibu Umi berkali-kali mendapatkan penghargaan dan menjadi juara dari tingkat Kabupaten hingga Nasional. Terakhir di tahun 2020 beliau pernah menjadi Juara Apresiasi Guru Inspiratif Kemendikbud 2020. 

 

Selain itu berkat menulis juga beliau mendapat kesempatan bertemu dengan guru-guru hebat yang penuh inspirasi dan motivasi dari berbagai penjuru tanah air, bertemu dengan tokoh-tokoh hebat, bertemu bapak mentri dan bahkan bapak presiden serta pengalaman-pengalaman lain yang sangat luar biasa. Salah satunya beliau mendapat kesempatan untuk mengikuti short course di Jepang selama 21 hari

 

Saran dari Ibu Umi, jika saat ini kita sudah terbiasa membaca dan menulis, maka hal tersebut harus terus dilatih untuk mengembangkan kemampuan. Bisa dimulai dengan menulis berbasis pengalaman dan kegemaran. Lalu belajarlah menulis berdasarkan riset atau penelitian.karena pada dasarnya menulis karya tulis ilmiah tidak sesulit yang dibayangkan. Karena yang paling sulit ternyata saat pertama kali kita menyelesaikan tulisan. Percayalah jika karya pertama sudah berhasil kita selesaikan, maka tulisan yang ke dua dan seterusnya akan terasa lebih mudah.

 

Sesungguhnya banyak diantara kita yang ingin menjadi penulis, tapi hanya sedikit yang dapat mewujudkannya. Banyak sekali kendala yang menjadi alasan.

 

Pertama, karena sering merasa tidak ada bakat. Padahal menulis bukan hanya tentang bakat,  kemampuan menulis bisa diasah dengan ketekunan, berlatih dan menjaga komitmen. 

 

Kedua, sulit memunculkan ide. Berbicara tentang ide, hal ini bisa didapat dengan memperbanyak diskusi, kolaborasi, dan tentu saja memperbanyak membaca. Terkadang ide sering kali muncul sewaktu-waktu. Jika tidak ingin kehilangan ide itu, segera catat. Saat ini kita dimudahkan dengan memiliki smartphone, catatlah pada smartphone. Bisa juga dengan membawa buku catatan kecil kemanapun kita pergi.  Lalu kembangkan dengan berdiskusi ataupun menambahkannya dengan buku-buku referensi

 

Ketiga, tidak suka menulis itu sendiri dan ini merupakan penyakit yang paling berat dalam menulis, tapi jika kita bisa menemukan alasan yang kuat mengapa kita harus menulis. Maka kita bisa mengalahkannya. Salah satunya dengan memiliki motivasi, memiliki alasan-alasan kenapa kita harus menulis. 

 

 



 

 

Kalau berbicara alasan mengapa harus menulis tentulah sangat beragam. Berikut beberapa alasan dari yang mungkin bisa menginspirasi dari Ibu Umi, 

 

 


 

Keempat, sulit menerima kritik. Tanpa disadari terkadang kita memilih untuk menutup diri dari saran dan kiritk orang lain. Padahal hal tersebut dapat membuat kita sulit untuk berkembang menjadi lebih baik. Maka mulailah untuk berfikiran terbuka dan tidak anti dengan kritikan.

 

Kelima, kendala waktu. Hal ini sebenarnya bisa disiasati dengan meluangkan waktu. 24 jam setiap hari pasti ada waktu-waktu kita yang tidak produktif, alangkah baiknya jika menggunakan waktu tersebut untuk menulis.

 

Untuk bisa menjadi penulis yang baik, maka kita bisa memulai dengan membiasakan hal-hal berikut dalam keseharian kita, 

 


 


 


 

Saat ini dunia digital berkembang pesat luar biasa. Informasi apapun dapat kita peroleh dengan mudah melalui internet. Banyak sekali sumber bacaan dan referensi yang bisa kita peroleh dari internet. Dan yang harus menjadi perhatian adalah  jangan sampai terjebak dalam plagiasi.

 

Selain itu kita juga bisa menulis berdasarkan pengalaman orang lain yang menjadi sumber inspirasi, oleh karena itu kita perlu mengembangkan sikap peduli dan empati seingga kita bisa memberikan solusi dan inspirasi dari setiap permasalahan yang ada di sekitar kita

Pada akhir materi ada sesi tanya jawab dari peserta. Saya salah satu yang bertanya. Ijin bertanya pak Cipto ibu umi, saya Sri Marwaningsih, dari Sragen

1. Bagaimana menjaga konsisten menulis

2. Bagaimana menumbuhkan kepercayaan diri agar bisa menulis, terimakasih.

IbuUmi menjawab” Terimakasih ibu Sri Marwaningsih atas pertanyaanya.

Untuk menumbuhkan konsistensi menulis cara yang bisa kita lakukan hanya satu yaitu terus menulis, berusahalah untuk menulis setiap hari, walaupun hanya satu paragraf atau 2 paragraf hingga menulis menjadi karakter hidup kita. bisa kita contoh Omjay, Konsistensinya sungguh luar biasa, beliau sudah membuktikan dengan menulis setiap hari maka menulis bukan suatu hal yang sulit lagi. jika kita sudah konsisten 1 atau 2 paragaraf kita naikkan menjadi satu lembar atau dua lembar setiap hari dan seterusnya, insyaallah kita bisa konsisten dengan menulis

Kita tidak perlu minder dengan apa yang sudah kita tulis, kita harus ingat tidak semua orang bisa menyelesaikan tulisannya, panjenengan bisa menyelesaikan tulisan panjenengan itu sudah luar biasa, ada banyak orang diluar sana yang belum pernah menyelesaikan satu tulisanpun bahkan untuk memulainya saja tidak. tulisan yang bagus tidak hadir dengan tiba-tiba tapi melalui proses yang panjang tidak mudah. Jadi buang jauh-jauh perasaan tidak percaya diri, terus menulis, menulis dan menulis

Beliau menutup materi malam ini dengan kalimat. “GURU MULIA KARNA KARYA”, jadi jangan pernah berhenti berkarya dan menginspirasi peserta didik kita , dalam bentuk apapun karya itu jika kita buat dengan sungguh-sungguh pasti akan menunjukkan jalan menuju kesuksesan.

Alhamdulillah pencerahan malam ini banyak ilmu yang saya peroleh, semoga saya bisa menjadi guru yang selalu berkarya untuk peserta didik dan bermanfaat juga untuk orang lain


1 komentar:

Tips Guru Berbagai Menulis dan Meneliti

Tips Guru Berbagai  Menulis dan Meneliti Belajar Menulis Gelombang 17 ·                      Pertemuan Ke -24 : Jum’at , 26 Februari 202...