PENGALAMAN HIDUPKU
Saya lahir di kota Sragen, 48 tahun silam, karena orang tua tugas di luar jawa kota Sintang Kalbar. Sejak usia sekolah dasar saya dibawa ayah ibu menetap di kota Borneo, saya anak sulung dari 3 bersaudara. Saya lahir di keluarga agamis, tiap hari selesai sekoalah pagi wajib belajar sekolah Diniyah menambah ilmu agama, les privait baca tulis Al-Qur’an. Suatu hari merasakan letih capek lelah karena banyak tugas sekolah pagi di SDN 5 Sintang, sengaja tidak les private ngaji di rumah mendatangkan ustadz, saya sembunyi dibawah kolong lantai rumah, di saat itu model rumah kami rata-rata seperti panggung, karena memang tanah gembut dan untuk menghindari binatang liar yang masih berkeliaran, seperti ular, kelabang, kala jengking, kerak monyet yang tiap hari ditengah-tengah terik matahari condong ke barat selalu terdengar suara kerak yang menyayat-nyayat hati, tiap musim penghujan terutama bulan Desember hampir pasti lengganan banjir mampir singgah di rumah kami, bulan Desember bulan yang sangat menyenangkan bagi kami anak-anak usia SD jika berangkat ke sekolah naik perahu getek buatan masyarakat di kampung kami, sesampainya di sekolah kami bermain-main di halaman yang penuh air menggenang baju sepatu basah kuyub bahkan dikelas air meluap tak terbendung hingga akhirnya kami tidak jadi belajar seperti biasanya, karena banjir meluap menghampiri seluruh kelas, kami semua di pulangkan dengan rasa suka cita menyusuri aliran sungai kapuas meluap, kami pun segera berkeliling-keliling dengan perahu getek bersama teman-teman pulang sambil bernyanyi main air yang sangat menyenangkan karena bebas tidak pelajaran, tapi dibalik itu ada perasaan sedih gelisah gundah gulana karena tidak jadi pelajaran bersama bapak ibu guru. Kejadian itu cukup berlangsung lama kira-kira satu minggu tiap tahun. Rumah kami masih dikelilingi hutan rimbun semak-semak belukar,di sinilah kami ditempak digemleng diasah agar tumbuh kembang jadi aanak-anak tangguh kuat iman imun,tubuh sehat dengan lingkungan yang panas di atas garis katulistiwa. Kami menamatkan sekolah tingkat pertama lalu melanjutkan ke pendidikan jenjang lebih tinggi di PGAN Jogjakarta ada perasaan takut kwatir sekolah jauh dari orang tua ditambah ilmu kami yang sangat-sangat rendah dibanding anak-anak di Jawa dari segi fasilitasnya lebih bagus dan pasti berkualitas namun saya optimis aku harus bisa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar