Tantangan Menulis Buku
dalam Seminggu
Belajar Menulis Gelombang 17
·
Pertemuan Ke-19 : Senin, 15 Februari 2021
·
Waktu :
19:00 s/d 21:00 WIB
·
Pemateri : Prof.DR.Ir.Richardus
Eko Indrajit
·
Moderator : Aam
Nurhasanah, S.Pd
·
Topik : Kiat Menulis Buku dalam Seminggu
·
Peresume : Sri
Marwaningsih (marwaningsihsri@gmail.com)
Malam ini kita kembali belajar menulis onlien
di PGRI pada pertemuan ke 19. Alhamdulillah di
kesempatan pada malam ini kita kedatangan tamu sangat istimewa yang memiliki talenta
beraneka ilmu, berkiprah diberbagai lembaga instansi berkarya membagi ilmu membesarkan
anak negeri. Beliau adalah Bapak Prof. Richardus Eko Indrajit. Seorang guru
besar di bidang Komputer di Perbanas Institute, menempuh program magister di
berbagai perguruan tinggi luar negeri, dan pernah juga menjabat sebagai staff
khusus. Menpora. Sungguh pencapaian karier melejit luar biasa hebatnya.
Kita bisa menyimak secara lengkap profil beliau Prof. Richardus Eko Indrajit di https://id.wikipedia.org/wiki/Richardus_Eko_Indrajit. Dengan dipandu
moderator handal Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd. Beliau dan teman-teman alumni di
kelas belajar menulis bersama Omjay dan narasumber hebat lainya bisa mewujudkan
impiannya menembus penerbit mayor PT Andi Offset dibawah bimbingan Prof. Richardus
Eko Indrajit juga. Kami Turut merasakan kegembiraan dan bangga atas
diterbitkaan buku para alumni. Kalau sudah duwet bersama prof. Eko segan
penerbit untuk tidak mengeksekusinya.
Beliau memaparkan kepawaian menulis dengan cepat di WAG
dengan tema “Kiat Menulis Buku dalam Seminggu”. Manusia sebagai makhluk sosial tidak
terlepas dari komunikasi lewat lisan. Bercerita dengan sesama dalam sehari-hari,
seminggu, sebulan,bahkan setahun jika dikumpulkan menjadi tulisan pasti sudah
berbagai lembar kertas berserakkan di mana-mana.
Kiat beliau menyemangati kami "Mengubah
berkomunikasi via oral (mulut) ke dalam via tulisan adalah cara jika ingin
menulis dan menerbitkan buku dalam satu minggu.Sungguh tercengang sambil
mengnganga mulut ini menyimaknya. Kiat yang menantang luar biasa bertempur di
medan tulisan hingga jadi buku.
Menulis merupakan wujud ucapan yang disajikan dalam bentuk
tulisan. Menuangkan hayalan kesukaan, pengalaman sehari bersama keluarga, liburan,
pekerjaan, makanan, anak, suami/istri, keluarga, orangtua, serta apapun topik
yang terlintas. Semua akan menjadi tulisan. Biasakan menulis setiap hari topik sesuai kesukaan dan
kita kuasai. Beliau setiap hari membiasakan menulis 1-3 halaman, tapi pada
haris Sabtu dan Minggu bisa berpuluh-puluh halaman. Isinya dari berbagai macam
kegiatan dari pagi hingga sore hari. Sebagaimana jauh sebelumnya telah
diingatkan Omjay “menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi”.
Suami dari
Ibu Lisa A.Riyanto menjelaskan hambatan
menulis datang dari diri sendiri. Hambatan
menulis terbesar memang ada dalam diri. Dan lagi-lagi kitalah yang memiliki
kontrol untuk mulai merubahnya atau tetap mengikuti arus kemalasan. Apalagi
jika alasannya hanyalah waktu, justru di masa pandemi seperti sekarang saat
yang tepat untuk memulai karena kebanyakan dari kita work from home.
Menulis bisa dijadikan media komunikasi dengan orang terdekat untuk
mengungkapkan rasa cinta kasih lewat untaian kata kalimat hingga paragraf
tersusun rapi. Dipersembahkan sebagai nasihat pada anak-anak remaja yang
cenderung kurang memperhatikan jika lewat ucapan.Anak-anak selalu teringat
nasihat tulisan diletakkan di meja belajar. Mereka akan termotivasi dengan
nasihat yang kita berikan ini.
Jadi
menulis itu bukan semata-mata bertujuan untuk publikasi, bagi Prof. Ekoji
menulis adalah untuk meningkatkan imunitas tubuh (supaya tidak mudah
terjangkiti covid). Karena dengan menulis beliau dapat
membuat orang lain bahagia, tersenyum, gembira, tertawa. Selain itu beliau juga
menginginkan kelak keturunannya tetap mengenal beliau karena hal yang tertulis
akan terekam abadi. Lalu apakah tujuan menulis kita?
Menurut Prof. Eko, jangankan seminggu, satu hari saja jika kita
memutuskan untuk menulis dari pagi sampai malam, pasti bisa menjadi buku.
Beliau bahkan sering mendisrupsi dirinya dengan membayangkan hal-hal
aneh.
Prof. Eko menambahkan, seandainya saja kita diberitahu malaikat
bahwa usia kita tinggal 24 jam lagi, dan dalam waktu itu kita tidak bisa
bertemu dengan siapa-siapa kecuali disediakan keyboard, komputer, dan Microsoft
Word, apa yang akan kita lakukan? Menantu dari penyanyi melegenda almarhum A.Riyanto
menambahkan pasti berhasil membuat buku mengharukan dalam waktu 24 jam.
Terkadang memang kita harus dipaksa, dipaksa menulis akhirnya
"terpaksa" jadi penulis. Dan tanpa disadari dalam keadaan terpaksa
ini kita jadi banyak belajar, banyak membaca dan mencari tahu.
Demikian materi malam ini bisa saya simpulkan kiat
menulis bersama Prof. Eko :
Semua yang dialami dalam hidup dapat menjadi topik tulisan. Komitmen dan konsisten. Ciptakan lingkungan yang kondusif penuh ketenangan dan kenyamanan. Menulislah dengan senyum, tawa, dan gembira. Buatlah jadual menargetkana sebuah tulisan untuk diselesaikan dengan konsistensi. Komunikasikan dengan keluarga mengenai kegiatan kita menulis agar tidak terjadi salah paham dan untuk mendapatkan support dari mereka.
Kata penutup yang mengharukan bisa dijadikan motivasi
diri dari beliau adalah “harimau mati meninggalkan
belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia
mati meninggalkan nama”.
Artinya adalah bahwa dari semenjak
dulu nenek moyang kita ingin agar kita menulis, karena hanya dengan menulislah
maka kita dapat hidup seribu tahun lagi.
Menulis adalah doa, menulis adalah
cinta, menulis adalah karya, menulis adalah jiwa, menulis adalah manusia
Ungkapan lain dari Ulama ternama tokoh Sufi “Jika kau
bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah “(Al
Ghazali)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar