Silaturrahmi Penuh Makna Penulis Pemula
Oleh Sri Marwaningsih
Pelatihan menulis gelombang 17 Tanggal, 8 Januari 2020 pertemuan ke tiga.
Pelatihan onlien kelas menulis selalu dinanti oleh para peserta hebat, penuh
semangat juang tinggi optimis menulis berkarya untuk bangsa “Ikhlas Beramal”
semata-mata hanya mencari Ridha Illahi Rabbii.
Saya selalu menyimak mengikuti acara
pelatihan menulis kelas onlien yang diprakarsai oleh Omjay . Moderator malam
ini Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd nara sumber
hebat handal luar bisa Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. atau lebih akrab disapa Bu Kanjeng. Beliau memiliki
suara khas lembut teduh enak renyak membuka
kelas dengan voicenote menggugah semangat menulis peserta pemula pecinta literasi.
Menulis
itu tak mengenal usia yang beliau lakukan hingga saat ini. Rasulullah SAW
Bersabda yang artinya “ Tuntutlah ilmu
dari buaian hingga liang lahat” menuntut ilmu tidak mengenal usia, belajar dari
sejak dilahirkan ibu sampai menjelang tutup usia inilah konsep yang diajarkan Rasulullah
SAW kepada umatnya untuk selalu belajar
dan belajar. Saya salut bangga bahagia
dengan Ibu Kanjeng yang selalu optimis belajar menulis dengan ikhlas tanpa
bayaran sepeserpun alias pelatihan ini gratis-tis tanpa dipungut biaya sama sekali para peserta.
Semoga Ibu Kanjeng dan para nara sumber
serta pengagas ide menulis di gelombang satu hingga tak terhingga Allah SWT
selalu membalas kebaikan mereka dengan balasan yang berlipat ganda melebihi apa
yang telah ditorehkan di pertemuan
menulis gelombang 17 ini. Sebagaimana Allah Berfirman di dalam Al Qur’an Surat
Al- Baqarah ayat 261, yang artinya” Perumamaan orang yang menginfakkan hartanya
di jalan Allah seperti sebutir biji yang
menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipat gandakan bagi siapa yang Dia kehendaki , dan Allah Mahaluas, Maha
Mengetahui”.
Ibu Kanjeng meminta bapak /ibu untuk
Blog Walking ke laman beliau di http://www.srisugiastutipln.com/2020/11/gurdasus.html. Sejenak meluangkan waktu 5 menit. Di sana
saya banyak menemukan tulisan yang menginspirasi, menggugah tidur panjang kami
sekian tahun tak mengenal literasi.Tiada hari tanpa menulis kata yang
menghunjam dibenak saya untuk semangat menulis hingga mampu menghasilkan karya
bermanfaat bagi orang banyak. Senada dengan Hadits Rasulullah SAW “ Khairunnaasi anfau’hum linnaasi artinya
sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad
ath-Thabrani ad-Daruqutni).
Paparan Ibu Kanjeng tentang Silaturrahmi
membawa inspirasi yang kuat mendalam dijadikan ide literasi apapun asal kita
mau mampu mengubah maindset. Pernyataan ini benar adanya dengan bersilaturrahmi
itu mengeratkan jalinan kasih sayang antara sesama dalam suasana saling berbagi
rasa simpatik dan empatik menyemangati, memotivasi membahagiakan satu dengan
lainnya dalam rangka mengubah maindset. Dari sinilah akan ada reaksi interaksi
walaupun hanya lewat media sosial bisa kita jadikan ajang silaturrahmi untuk
mengetahui kondisi situasi lingkungan alam sekitar, seseorang untuk berkarya
karena jalinan kasih sayang yang tulus ikhlas Lillahi Ta’ala.
Bersilaturrahmi banyak makna yang mampu kita
jadikan ide, gagasan, inspirasi berbincang, diskusi maka timbulah peristiwa
untuk menulis dari hal-hal yang kita bicarakan dalam bersilaturrahmi. Di
pelatihan menuliis gelombang 17 ini kita juga bersilaturrahmi dengan para pakar
hebat nara sumber dan moderator serta para peserta penuh optimis guru-guru
hebat bermartabat di kancah dunia pendidikan Indonesia, semoga nanti akan
menelurkan karya-karya penulis hebat guru Indonesia dari Sabang sampai Meruke.
Pada link blog Ibu Kanjeng tentang Gurdasus
http://www.srisugiastutipln.com/2020/11/gurdasus.html
berisi kisah seorang guru daerah khusus (Gurdasus) namanya ibu waitir . Kita
bisa membaca di buku yang berjudul “Secercah Harapan dalam Keterbatasan”. Ibu kanjeng
berilaturrahmi dengan teman sejawat bernama Ibu Waitir bertugas di daerah terpencil
yang jauh dari fasilitas sarana prasarana yang kurang mendukung mengakses informasi dunia
pendidikan. Beliau mendapatkan informasi keadaan sebenarnya di sana terharu
biru dan menangis. Gambaran kisah cerita ini menjadi ide menulis buku untuk
kita semua para guru hebat Indonesia.
Buku beliau selanjutnya “ Catatan Corona
Bu Kanjeng. Kata pengantarnya diberikan oleh tokoh literasi Jawa Timur bernama Doktor Ngainun Naim dosen IAIN Tulung
Agung pegiat literasi.Tahun 2018 tergabung dalam komunitas sahabat pena kita. Di
dalamnya tergabung para dosen dan professor. Ada sekitar 34 tulisan yang
dialami Bu Kanjeng di masa pendemi ditulis dalam buku tersebut selama bergabung
dikomunitas sahabat pena. Hal ini berkat hasil silaturrahmi di sahabat pena Bu
Kanjeng.
Masya Allah, mantap resumenya Bunda Sri. Lanjut...semangat ...
BalasHapusBaru belajar bun, kadang ada rasa malu untuk memposting Bun, terimakasih suppoutnya Bun jdi terus semangat jika teman2 mau singgah ke blog saya
BalasHapus