Minggu, 10 Januari 2021

Silaturrahmi Penuh Makna

 Silaturrahmi Penuh Makna Penulis Pemula

Oleh Sri Marwaningsih

     


 

 Pelatihan menulis gelombang 17  Tanggal, 8 Januari 2020 pertemuan ke tiga. Pelatihan onlien kelas menulis selalu dinanti oleh para peserta hebat, penuh semangat juang tinggi optimis menulis berkarya untuk bangsa “Ikhlas Beramal” semata-mata hanya mencari Ridha Illahi Rabbii.

       Saya selalu menyimak mengikuti acara pelatihan menulis kelas onlien yang diprakarsai oleh Omjay . Moderator malam ini Ibu Aam Nurhasanah, S.Pd  nara sumber hebat handal luar bisa Ibu Sri Sugiastuti, M.Pd. atau  lebih akrab disapa Bu Kanjeng. Beliau memiliki suara khas lembut  teduh enak renyak membuka kelas dengan voicenote menggugah semangat menulis peserta pemula pecinta literasi.

        Menulis itu tak mengenal usia yang beliau lakukan hingga saat ini. Rasulullah SAW Bersabda  yang artinya “ Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat” menuntut ilmu tidak mengenal usia, belajar dari sejak dilahirkan ibu sampai menjelang  tutup usia inilah konsep yang diajarkan Rasulullah SAW  kepada umatnya untuk selalu belajar dan belajar.  Saya salut bangga bahagia dengan Ibu Kanjeng yang selalu optimis belajar menulis dengan ikhlas tanpa bayaran sepeserpun alias pelatihan ini gratis-tis tanpa dipungut biaya  sama sekali para peserta.

        Semoga Ibu Kanjeng dan para nara sumber serta pengagas ide menulis di gelombang satu hingga tak terhingga Allah SWT selalu membalas kebaikan mereka dengan balasan yang berlipat ganda melebihi apa yang  telah ditorehkan di pertemuan menulis gelombang 17 ini. Sebagaimana Allah Berfirman di dalam Al Qur’an Surat Al- Baqarah ayat 261, yang artinya” Perumamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji  yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.  Allah melipat gandakan bagi siapa yang  Dia kehendaki , dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui”.

        Ibu Kanjeng meminta bapak /ibu untuk Blog Walking ke laman beliau di http://www.srisugiastutipln.com/2020/11/gurdasus.html. Sejenak meluangkan waktu 5 menit. Di sana saya banyak menemukan tulisan yang menginspirasi, menggugah tidur panjang kami sekian tahun tak mengenal literasi.Tiada hari tanpa menulis kata yang menghunjam dibenak saya untuk semangat menulis hingga mampu menghasilkan karya bermanfaat bagi orang banyak. Senada dengan Hadits Rasulullah SAW  “ Khairunnaasi anfau’hum linnaasi artinya sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad ath-Thabrani ad-Daruqutni).

       Paparan Ibu Kanjeng tentang Silaturrahmi membawa inspirasi yang kuat mendalam dijadikan ide literasi apapun asal kita mau mampu mengubah maindset. Pernyataan ini benar adanya dengan bersilaturrahmi itu mengeratkan jalinan kasih sayang antara sesama dalam suasana saling berbagi rasa simpatik dan empatik menyemangati, memotivasi membahagiakan satu dengan lainnya dalam rangka mengubah maindset. Dari sinilah akan ada reaksi interaksi walaupun hanya lewat media sosial bisa kita jadikan ajang silaturrahmi untuk mengetahui kondisi situasi lingkungan alam sekitar, seseorang untuk berkarya karena jalinan kasih sayang yang tulus ikhlas Lillahi Ta’ala.

         Bersilaturrahmi banyak makna yang mampu kita jadikan ide, gagasan, inspirasi berbincang, diskusi maka timbulah peristiwa untuk menulis dari hal-hal yang kita bicarakan dalam bersilaturrahmi. Di pelatihan menuliis gelombang 17 ini kita juga bersilaturrahmi dengan para pakar hebat nara sumber dan moderator serta para peserta penuh optimis guru-guru hebat bermartabat di kancah dunia pendidikan Indonesia, semoga nanti akan menelurkan karya-karya penulis hebat guru Indonesia dari Sabang sampai Meruke.

       Pada link blog Ibu Kanjeng tentang Gurdasus http://www.srisugiastutipln.com/2020/11/gurdasus.html berisi kisah seorang guru daerah khusus (Gurdasus) namanya ibu waitir . Kita bisa membaca di buku yang berjudul “Secercah Harapan dalam Keterbatasan”. Ibu kanjeng berilaturrahmi dengan teman sejawat bernama Ibu Waitir bertugas di daerah terpencil yang jauh dari fasilitas sarana prasarana yang kurang  mendukung mengakses informasi dunia pendidikan. Beliau mendapatkan informasi keadaan sebenarnya di sana terharu biru dan menangis. Gambaran kisah cerita ini menjadi ide menulis buku untuk kita semua para guru hebat Indonesia.

       Buku beliau selanjutnya “ Catatan Corona Bu Kanjeng. Kata pengantarnya diberikan oleh tokoh literasi Jawa Timur  bernama Doktor Ngainun Naim dosen IAIN Tulung Agung pegiat literasi.Tahun 2018 tergabung dalam komunitas sahabat pena kita. Di dalamnya tergabung para dosen dan professor. Ada sekitar 34 tulisan yang dialami Bu Kanjeng di masa pendemi ditulis dalam buku tersebut selama bergabung dikomunitas sahabat pena. Hal ini berkat hasil silaturrahmi di sahabat pena Bu Kanjeng.

       Materi dari Bu Kanjeng kuliah malam ini sangat memotivasi kami peserta pelatihan menulis setiap hari dengan harapan mampu menulis buku solo hingga terbit di penerbit Mayor. Dengan menulis sesorang mampu berbagi ilmu menuangkan gagasan yang dahsyat bermanfaat untuk orang lain. Sebagaimana yang dikutib Ibu Kanjeng dari pernyataan Ki Hajar Dewantara apapun yang dilakukan sesorang, hendaknya bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsa dan bermanfaat bagi manusia lain. Hal ini dilakukan karena bersilaturrahmi memperoleh ide yang tak disangka muncul untuk menulis sesuatu yang bermanfaat

2 komentar:

  1. Masya Allah, mantap resumenya Bunda Sri. Lanjut...semangat ...

    BalasHapus
  2. Baru belajar bun, kadang ada rasa malu untuk memposting Bun, terimakasih suppoutnya Bun jdi terus semangat jika teman2 mau singgah ke blog saya

    BalasHapus

Tips Guru Berbagai Menulis dan Meneliti

Tips Guru Berbagai  Menulis dan Meneliti Belajar Menulis Gelombang 17 ·                      Pertemuan Ke -24 : Jum’at , 26 Februari 202...